Pada pembahasan sebelumnya telah diperlihatkan bahwa sel darah putih (leukosit) merupakan komponen seluler utama dari sistem imun tubuh. Leukosit memiliki berbagai jenis dan peran dalam sistem kekebalan tubuh. Namun, secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fagosit dan limfosit.
1. Fagosit: Sel Pemakan Patogen
Fagosit adalah jenis sel yang berfungsi untuk menghancurkan patogen dengan cara mencernanya. Sel-sel ini terbentuk di sumsum tulang, khususnya di tulang pipa, dan kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan cairan limfa. Terdapat dua tipe utama fagosit yang berperan dalam respon imun: neutrofil dan makrofag.
a. Neutrofil
- Peran dan Fungsi: Neutrofil adalah fagosit yang paling banyak ditemukan, menyusun sekitar 60% dari komposisi leukosit dalam darah. Mereka dapat berpindah ke seluruh tubuh dan sering meninggalkan pembuluh darah untuk “berpatroli” di jaringan.
- Proses Fagositosis: Neutrofil menempel pada patogen dan membentuk kantung vesikula (fagosom) yang membawa patogen ke dalam sel melalui endositosis. Enzim pencernaan dari lisosom kemudian bergabung dengan fagosom untuk menghancurkan patogen dalam proses yang disebut fagositosis.
- Masa Hidup: Neutrofil memiliki masa hidup yang singkat; setelah melawan patogen, mereka mati dan dapat membentuk nanah di lokasi infeksi.



Neutrofil
Basofil
Sel Mast
b. Makrofag
- Peran dan Fungsi: Makrofag lebih besar daripada neutrofil dan biasanya menetap di organ-organ seperti paru-paru, hati, dan limpa. Mereka berasal dari monosit yang beredar dalam darah dan berkembang menjadi makrofag setelah meninggalkan darah.
- Proses Fagositosis: Makrofag tidak hanya menghancurkan patogen tetapi juga memecahnya menjadi partikel kecil untuk dijadikan sampel antigen. Partikel ini ditampilkan di permukaan sel makrofag untuk dikenali oleh limfosit, sehingga memicu respon imun spesifik.
- Masa Hidup: Berbeda dengan neutrofil, makrofag memiliki masa hidup yang lebih panjang dan berperan penting dalam menginisiasi respon imun spesifik.

Makrofag
2. Limfosit
Limfosit adalah tipe sel darah putih yang memainkan peran penting dalam sistem pertahanan tubuh, khususnya dalam respon imun spesifik adaptif. Terdapat dua jenis utama limfosit yang terbentuk di sumsum tulang janin:
a. Limfosit B (Sel B): Tetap berada di sumsum tulang hingga matang, kemudian menyebar ke seluruh tubuh, terutama di nodus limfa dan limpa.
b. Limfosit T (Sel T)**: Meninggalkan sumsum tulang dan matang di timus, kelenjar yang terletak di rongga dada.
Kedua jenis limfosit ini bersirkulasi dalam darah dan limfa, memungkinkan mereka mendeteksi patogen dengan lebih efektif. Beberapa dari sel-sel ini akan menjadi sel memori, yang dapat “mengingat” antigen yang pernah dikenali.
Kelainan Sistem Imun
- Imunodefisiensi
Gangguan pada sistem imun yang dapat menyebabkan tubuh kurang aktif dalam melawan infeksi, sehingga dapat menimbulkan infeksi berulang dan mengancam jiwa.
Contoh: penyakit defisiensi imunitas kombinasi dan Sindrom Defisiensi Imun Dapatkan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV
- Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem pertahanan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Umumnya terjadi pada sistem imum spesiik yang kehilangan kemampuan dalam pengenalan sel-sel tubuh. Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala serupa, seperti kelelahan, nyeri otot, dan demam. Beberapa di antaranya disajikan pada Tabel dibawah ini.
Tabel Beberapa Contoh Penyakit Autoimun
| No. | Penyakit Autoimun | Bagian Tubuh Terdampak | Dampak Utama dari Penyakit |
| 1. | Myastenia gravis | Sambungan neuromuskular | Lemah otot |
| 2. | Multiple sclerosis | Sistem saraf pusat | Kelumpuhan |
| 3. | Rhematoid artritis | Persendian | Kerusakan sendi seacara bertahap |
| 4. | Diabetes melitus tipe 1 | Pulau Langerhans pankreas | Kerusakan sel beta penghasil insulin |
| 5. | Lupus Sistematik | Kulit, ginjal, dan sendi | Penurunan fungsi dan perubahan bentuk tubuh secara bertahap |
- Penyakit Inflamasi
Reaksi peradangan yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan gangguan fungsional. Contoh: Artritis Rematik, Gout, Fibrosis Pulmonaris Idiopatis.
Faktor Pengaruh Sistem Pertahanan Tubuh
Sistem pertahanan tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat memperkuat atau melemahkan kemampuannya dalam melawan infeksi. Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai faktor-faktor tersebut:
- Genetik
Variasi genetik individu memainkan peran penting dalam kemampuan sistem imun. Beberapa orang mungkin memiliki gen yang memberikan keunggulan dalam memproduksi sel-sel imun atau antibodi yang lebih efektif. Misalnya, variasi dalam gen yang mengatur produksi sitokin dapat mempengaruhi seberapa baik tubuh merespons infeksi atau peradangan. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan latar belakang genetik tertentu mungkin lebih rentan terhadap penyakit autoimun atau infeksi tertentu.
- Fisiologis
Kondisi fisiologis seperti pola tidur, tingkat stres, dan kebugaran fisik sangat mempengaruhi sistem imun:
– Pola Tidur : Tidur yang cukup dan berkualitas penting untuk regenerasi sel-sel imun. Kurang tidur dapat mengurangi produksi sitokin, yang berperan dalam respon inflamasi dan melawan infeksi.
– Stres : Stres kronis dapat mempengaruhi produksi hormon seperti kortisol, yang pada gilirannya dapat menekan respon imun. Mengelola stres melalui teknik relaksasi, olahraga, dan meditasi dapat membantu menjaga kesehatan sistem imun.
- Makanan
Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk menjaga kinerja sistem imun. Beberapa zat gizi yang berperan penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh meliputi:
- Protein : Diperlukan untuk sintesis antibodi dan perbaikan jaringan. Sumber protein yang baik termasuk daging, ikan, telur, kacang-kacangan, dan produk
- Vitamin dan Mineral :
– Vitamin A : Berperan dalam fungsi sel imun dan sebagai antioksidan.
– Vitamin C : Membantu sintesis kolagen dan berfungsi sebagai antioksidan.
– Vitamin E : Melindungi sel dari kerusakan oksidatif.
– Zinc dan Selenium : Membantu aktivasi enzim yang terlibat dalam respon imun.
3. Serat: Makanan tinggi serat mendukung kesehatan saluran pencernaan dan memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan memperkenalkan bakteri baik.
Leave a Reply